Kamis, 02 April 2015

STAYING



Setiap awal pasti ada akhirnya,tak ada yang kekal dalam kefanaan. Semua yang dimiliki harus kembali dipersembahkan pada yang mengijinkannya untuk di miliki. Betapa terbatas manusia itu ternyata.

Tapi syukur untuk setiap proses yang sang Pemilik ijinkan untuk dilewati. Tak ada yang salah dalam rencanaNya. Bagiku mengenal dan bisa tau apa yang Dia mau itu cukup indah. Walau terkadang sulit untuk memahami betapa ajaibnya pemikiranNya. Yups, He is still awesome God.Menjadi tenang dan percaya itu ANUGERAH.

Awalnya pun tak mudah bagiku menerima apa yang Dia mau. Memintaku untuk tetap stay di kota Medan ini dan  menyelesaikan apa yang pernah aku mulai sebelumnya. Namun, aku menginginkan kekonyolan yang tak beralasan. Berkarir di Ibukota dengan semua persaingan dan kemegahan yang di tawarkannya. Tanpa ada visi yang jelas untuk apa dan bagaimana aku menghidupi mimpiku itu. 
Sebenarnya sih kalau selidik punya selidik alasan utamaku itu ya cuma ingin terlihat keren bisa berkarir di luar dan tidak selalu di bawah "ketiak orang tua".

Tapi, lagi-lagi rencanaNya tak terselami,memberikan perekerjaan sementara di kota ini. Iya Sementara..hanya mengantikan posisi karyawan yang sedang cuti. 4 bulan tepatnya. Ya awalnya aku memandang sebelah mata, bahkan tak pernah terpikirkan untuk bekerja di suatu organisasi kemanusiaan. Tapi apa mau dikata, daripada tidak sama sekali. Berjalan dalam kepasrahan deh akhirnya (hehehe). Tapiii, lagi-lagi Dia Tuhan ga pernah gagal mendidik anakNya (Hey, I'm His daughter)

Disinilah aku benar-benar diajar, hal-hal yang kecil bahkan terlalu seperle itu pun menjadi sesuatu pengalaman besar ditangan Allah yang besar. Berjalan tanpa arah yang jelas hanya membawa pada kehancuran. Kalau hanya hidup mengalir mengikuti arus, mengikuti apa kata dunia, dan hidup hanya untuk bernapas, kurasa itu bukan SIKAP anak Tuhan.
Setiap orang punya tujuan tersendiri untuk apa dia diciptakan
Dia berikan akal budi untuk memilih Jadi ingat pengalaman bangsa Israel yang diajak Tuhan berputar-putar 40 tahun hanya karena ketidaktaatan mereka dan . Hidup memang tak mengajari kita menjadi bijaksana, tapi kebijaksanaan di dapatkan oleh siapapun yang mau di ajar. Ga gampang untuk berdamai dengan diri sendiri, dan ketika aku menuliskan hal ini aku pastikan aku sudah berdamai :)

1. Dia mengajarku untuk tetap rendah hati. Setia dalam perkara kecil. Doing the Best
2. Dia menghadiahiku teman-teman yang siap membimbingku bahkan 'atasan' yang bisa menjadi seorang kakak.Bukan persaingan yang kudapatkan tapi kerjasama yang baik. Seorang anak baru tanpa pengalaman di ijinkan menjalankan
3.Pekerjaan ini tak menuntutku berpenampilan semenarik mungkin tapi menuntutku bekerja senyaman dan semaksimal mungkin. Menjadi dir sendiri dan ga perlu di bebani dengan topeng-topeng yang membuatku tak nyaman.
4. Bekerja dilingkungan yang aman dan menyenangkan itu proses yang harus dibangun. tapi aku mendapatinya sudah benar2 terbangun. Hanya menari mengikuti alunan musik. Kerjasama yang membentuk sebuah hubungan. Aaaaa, I'm  So blessed!!

Intinya, aku sangat mencintai apa yang aku kerjakan. Terlepas dari benefit yang aku dapatkan kupikir itu bonus. Dan saat dimana aku sudah mulai paham apa yang aku kerjaan saat inilah aku diminta untuk melepaskannya. Semua pertanyaan 'mengapa' itu pun kembali terbesit. Mengapa harus sesingkat ini dan apa maksud dari semua kesempatan baik itu. 
Ya bagiku, Betapa sulitnya pemikiranMu ya Allah.
Karena yang kita nantikan adalah pengharapan di dalam Dia, maka kita menantikannya dengan setia!!
hmmm, I will see how amaze Your Love, o dear Lord.
"Kembali menantikan hal-hal besar dan indah yang akan Dia selesaikan'' I think that's the point here :)

   































Sabtu, 14 Juli 2012

Rasa yang tak mungkin Salah

mencoba untuk menghapus jejaknya dalam hatiku. tapi, sekuat apapun aku berusaha, jejak itu terlalu dalam dan tak mampu tuk menghapusnya. semakin berusaha melupakannya, semakin sering ku memikirkannya. huuff, salahkah perasaan ini, ketika aq biarkan tumbuh tanpa seorang pun yang tau apa yang kurasa termasuk dirinya. 
kadang ku berpikir, mengapa banyak orang dengan mudah mengungkapkan apa yang dia rasa. Sementara aq, terbelenggu dengan rasa yang tak mampu aku ungkap, dan semua hanya terertahan di bibir ini.
Satu-satunya alasan aku untuk tetap mempertahankan perasaan ini adalah Tuhan. sebab hanya Dia yang tau perasaan apa yang ku rasa. dan terus berharap, bahwa di dalamNya harapanku tidak akan sia-sia. Satu hal yang harus terus ku percaya, Dia punya waktu dan cara yang terbaik untuk mempersatukan kami. walau saat ini seolah tiada dasar bagi ku untuk mengharapkannya